9 Februari 2022 - 19:59
Mustahil Peradaban Islam Terwujud tanpa Peran Serta Perempuan

"Hari ini, jika perempuan tidak hadir di beberapa bidang sosial, yakinlah peradaban Islam tidak akan terwujud. Kita tidak boleh mengabaikan atau meremehkan peran perempuan."

Menurut Kantor Berita ABNA, majelis peringatan wiladah Sayidah Fatimah az-Zahra sa digelar Forum Internasional Ahlulbait as di kantor sekteratiar lembaga ini di Tehran ibukota Republik Islam Iran, Selasa (25/1). Majelis wiladah ini turut dihadiri Sekretaris Jenderal Forum Internasional Ahlulbait as Ayatullah Reza Ramezani beserta para pimpinan dan staff. 

Berbicara pada majelis tersebut, Ayatullah Ramezani mengawali dengan mengucapkan selamat atas kelahiran Sayidah Fatimah az-Zahra sa dan mengatakan, "Mengingat kesempurnaan sosok dan kepribadian Sayidah Fatimah az-Zahhra sa, beliau adalah peran nyata keteladanan untuk ibu, anak perempuan bahkan termasuk laki-laki dalam kehidupan keseharian kita."

Mengacu pada klaim yang menyebutkan bahwa Imam Ali as terkadang bertengkar dengan Sayidah Zahra sa dalam kehidupan rumah tangganya dan merujuk kepada Nabi Muhammad saw untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi antar keduanya, Ayatullah Ramezani berkata, "Yang berpandangan demikian tidak mengetahui posisi agung Sayidah Zahra sa dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Keduanya adalah pribadi yang maksum, sehingga tidak logis jika keduanya sampai memiliki perselisihan. Tidak satupun riwayat sampai kepada kita, Imam Ali as pernah membuat istrinya marah, dan begitupun Sayidah Zahra tidak pernah melakukan sesuatu yang membuat suaminya tidak ridha."

"Kita harus mendefinisikan kembali dan meninjau posisi Sayidah Fatimah az-Zahra sa yang memiliki kedudukan yang agung, baik dalam keintelektualan maupun pendidikan. Beliau adalah guru dan instruktur dan tidak hanya bertanggung jawab atas pendidikan di rumah. Masalah pekerjaan rumah tidak sedikit, diskusi pendidikan hari ini adalah salah satu disiplin penting dari pusat-pusat ilmiah penting. Sangat penting bahwa peran pendidikan diserahkan kepada ibu. Mengingat martabat dan posisi yang dimiliki seorang wanita dan dapat menjadi pelatih di rumah, dia memiliki dampak yang besar pada masyarakat." Tambahnya. 

Anggota Majelis Ahli Kepemimpinan Iran ini lebih lanjut menyatakan, "Jika kita mempelajari dengan seksama apa yang ada dalam ayat-ayat dan riwayat-riwayat tentang Sayidah Fatimah az-Zahra sa, kita akan melihat bahwa ia hidup dalam kondisi dan situasi yang sedemikian sulit dan penuh cobaan selama 19 tahun hidupnya. Dari kelahiran hingga ikut menderita dalam pengasingan saat mendapat pemboikotan di Syi'ib Abi Thalib, kehilangan ibunda tercinta, turut merasakan saat ayahnya mendapat teror dan ancaman pembunuhan, ikut dalam hijrah ke Madinah, dan juga turut serta dalam sejumlah peperangan bersama Nabi dengan berpartisipasi merawat yang luka. Kesemua rangkaian peristiwa yang dialami ini, telah membentuk kepribadian Zahra sa sebagai sosok yang tegar dan sabar."

"Sayidah Fatimah az-Zahra sa memiliki peran penting dalam bidang pencerahan masyarakat. Ia hadir di arena budaya, sosial dan politik dan memiliki pengetahuan yang baik tentang isu-isu dunia Islam pada saat itu. Sayidah Zahra sa membuka majelis-majelis ilmu dengan mengadakan sesi tanya jawab dan kaum perempuan bebas mengajukan pertanyaan langsung kepadanya." Tambahnya. 

Ayatullah Ramezani lebih lanjut menyebutkan, bahwa membatasi gerak perempuan dengan mengurungnya di dalam rumah adalah bentuk penganiayaan terhadap perempuan dan ini tidak diperoleh dari serangkaian studi tentang perempuan dalam perspektif Islam. Ia berkata, "Al-Qur'an dalam beberapa bab telah memperkenalkan sosok perempuan seperti Asiyah sebagai teladan. Kita juga memiliki sekitar 300 ayat yang berkaitan dengan masalah perempuan dan ada surah yang disebut an-Nisa dan nama Sayidah Maryam. Juga, bagian dari ayat-ayat Al-Qur'an seperti Mubahila, Tahir dan Kautsar adalah tentang Sayidah Zahra sa."

"Ada banyak ayat tentang kepribadian spiritual Sayidah Zahra sa dalam Al-Qur'an, yang masing-masing merupakan ekspresi sempurna dari kemuliaan pribadi agung ini." Lanjutnya. 

Sekretaris Jenderal Forum Internasional Ahlulbait as ini juga mengatakan, "Kita banyak kelalaian dalam turut mengatasi masalah perempuan. Ada pandangan ekstrem dan menyimpang pada banyak isu seperti rasionalitas, kebebasan, kebahagiaan dan spiritualitas perempuan. Sementara banyak tokoh perempuan Islam yang kurang diperkenalkan sehingga terkubur namanya dalam kuburan sejarah. Sosok-sosok tersebut membawa keteladanan yang sekiranya kehidupan dan profil mereka dieksplorasi secara layak, banyak problema sosial terkait perempuan yang bisa diselesaikan dengan mengambil solusi dari pengalaman mereka."

Ulama Hauzah Ilmiah Qom ini lebih lanjut mengatakan bahwa hak-hak sosial perempuan jangan dibiarkan terlalu lama diabaikan. Menurutnya pentingnya perempuan hari ini mendapatkan hak-hak sosialnya termasuk dalam keterlibatan di ranah politik. Ia menambahkan bahwa setengah dari populasi dunia adalah perempuan dan anak perempuan. "Propaganda dan kampanye dunia saat ini menempatkan perempuan tidak lebih dari obyek sensual semata. Perempuan hanya dipandang dari sisi kecantikan fisik dan mengabaikan intelektualitas perempuan. Sehingga, beberapa perempuan menjadi percaya bahwa mereka lebih rendah. Sementara dalam Islam, tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan dalam hal ketinggian martabat dan kemuliaan." Ungkapnya. 

Di bagian akhir penyampaiannya, Ayatullah Ramezani berkata, "Hari ini, jika perempuan tidak hadir di beberapa bidang sosial, yakinlah peradaban Islam tidak akan terwujud. Kita tidak boleh mengabaikan atau meremehkan peran perempuan. Imam Khomeini menghidupkan kembali kehadiran perempuan di arena sosial dan di alun-alun besar yang disebut Revolusi. Kehadiran perempuan dalam kancah sosial dan khususnya dalam sistem pendidikan akan bermuara pada terbentuknya peradaban Islam."

Di akhir majelis,  Ayatollah Ramezani memberikan penghargaan dan apresiasi pada sejumlah aktivis perempuan yang bekerja di Forum Internasional Ahlulbait as.